Kampung Nitikan merupakan salah satu kampung tua di Kota Yogyakarta yang memiliki akar sejarah Islam yang kuat. Terletak di antara Karangkajen dan Kotagede, wilayah ini dikenal sebagai bagian dari kampung awal penerima dakwah Muhammadiyah. Sejarah Nitian tidak dapat dilepaskan dari hubungan eratnya dengan Keraton Mataram Islam, dibuktikan dengan adanya makam tokoh-tokoh keraton seperti Ratu Beruk, Pangeran Balitar, dan Raden Ronggo, serta prasasti yang menandai keberadaan Masjid Panitikan, kini dikenal sebagai Masjid Sulthonain sebagai salah satu masjid tertua di kawasan tersebut.
Sejak masa Panembahan Senopati, Nitikan telah menjadi pusat aktivitas keislaman. Kampung ini melahirkan dan menaungi banyak tokoh ulama, termasuk Mbah Sulaiman, Mbah Kiai Syafi’i, hingga garis keturunan KH Ahmad Dahlan. Tradisi keilmuan tumbuh kuat melalui pengajian, sorogan, dan bandongan yang dilakukan di langgar dan masjid kampung. Kitab-kitab pesantren dikaji secara intensif, meski tanpa keberadaan pondok pesantren formal, menjadikan Nitian dikenal sebagai “kampung santri tanpa pondok pesantren”.
Muhammadiyah mulai berkembang di Nitikan melalui pembinaan dari Pakualaman dan Karangkajen. Gerakannya menekankan pemurnian akidah, penguatan pendidikan, serta pelayanan sosial. Seiring waktu, berbagai amal usaha Muhammadiyah tumbuh di Nitikan, mulai dari TK, SD Muhammadiyah, TPA, masjid, hingga Tokomu. Tradisi keagamaan masyarakat pun mengalami transformasi, dengan praktik-praktik lama seperti nyewu dan ritual TBC perlahan ditinggalkan, digantikan dengan pengajian dan silaturahmi berbasis nilai Islam berkemajuan.
Memasuki masa kini, Kampung Nitikan menghadapi tantangan regenerasi kader, perubahan karakter generasi muda, serta keterlibatan anak-anak dengan masjid. Meski demikian, harapan tetap tumbuh melalui munculnya pondok pesantren mahasiswa Raudlatul Huffadz dan berbagai kegiatan pengajian yang berkelanjutan. Dengan sejarah panjang, kekuatan tradisi keilmuan, dan semangat dakwah yang terus hidup, Kampung Nitikan tetap menjadi simbol kampung santri yang adaptif terhadap zaman, tanpa kehilangan jati diri keislamannya.