
Belakangan ini media sosial diramaikan dengan istilah yang menarik: “Login Muhammadiyah.” Ungkapan itu muncul dalam berbagai unggahan, komentar, dan video pendek, terutama dari generasi muda. Ada yang mengaitkannya dengan cara Muhammadiyah menentukan awal Ramadan dan Idul Fitri, Kalender Hijriah Global Tunggal, kemandirian organisasi, pendidikan, rumah sakit, hingga cara berpikir Muhammadiyah yang dianggap rasional dan sederhana.
Fenomena ini tentu menarik. Tetapi kita tidak perlu terlalu cepat merayakannya sebagai tanda bahwa generasi muda sedang berbondong-bondong menjadi Muhammadiyah. Ada sesuatu yang lebih penting untuk dibaca: perubahan cara generasi baru membangun kedekatan dan memilih identitas keberagamaannya.
Pilihan kata login sendiri menarik. Generasi sebelumnya lebih akrab dengan istilah “masuk Muhammadiyah”, “menjadi anggota Muhammadiyah”, atau “bergabung dengan Persyarikatan”. Generasi digital memakai bahasa yang mereka kenal sehari-hari. Dalam dunia digital, login berarti membuka pintu menuju sebuah ekosistem. Seseorang belum tentu memahami seluruh isi di dalamnya. Ia baru masuk, melihat, menjelajah, kemudian menentukan apakah akan bertahan atau keluar. Begitu pula barangkali yang terjadi dengan Muhammadiyah.
Orang yang mengatakan “login Muhammadiyah” belum tentu memiliki Kartu Tanda Anggota Muhammadiyah. Belum tentu pula memahami seluruh pemikiran dan ideologi Muhammadiyah. Bisa jadi ia baru merasa bahwa cara Muhammadiyah memahami agama dekat dengan pikirannya.
Karena itu, fenomena ini bukan pertama-tama soal keanggotaan. Ia adalah fenomena kedekatan dan pilihan identitas.
Dahulu identitas organisasi keagamaan banyak diwariskan melalui keluarga dan lingkungan. Seseorang dekat dengan Muhammadiyah karena orang tuanya Muhammadiyah atau tumbuh di lingkungan Muhammadiyah.
Generasi sekarang hidup dalam dunia berbeda.
Melalui telepon genggam, mereka dapat mendengarkan berbagai pandangan keagamaan, mengikuti banyak tokoh, membaca beragam gagasan, lalu membandingkannya sendiri. Identitas yang dahulu banyak diwariskan kini semakin menjadi sesuatu yang juga dipilih.
Maka menjadi menarik ketika seseorang yang tidak mempunyai latar belakang Muhammadiyah kemudian mengatakan, “Saya kok cocok dengan Muhammadiyah.”
Pertanyaannya: mengapa Muhammadiyah?
Pertama Barangkali karena generasi muda semakin sulit diyakinkan hanya dengan klaim. Mereka ingin melihat bukti. Di titik ini Muhammadiyah mempunyai modal panjang. Muhammadiyah tidak hanya berbicara tentang pendidikan, tetapi membangun sekolah dan perguruan tinggi. Tidak hanya berbicara tentang kesehatan, tetapi mendirikan rumah sakit. Tidak sekadar berbicara tentang keberpihakan kepada kelompok lemah, tetapi menghadirkan pelayanan sosial, filantropi, kebencanaan, dan pemberdayaan masyarakat.
Teologi Al-Ma’un menemukan bahasa barunya: agama harus terlihat manfaatnya.
Kedua Ada pula citra rasionalitas yang melekat pada Muhammadiyah. Cara Muhammadiyah menjelaskan persoalan agama melalui argumentasi dan ilmu pengetahuan menarik perhatian generasi muda. Yang dilihat bukan sekadar soal kapan berpuasa atau berlebaran, tetapi keberanian mengambil keputusan yang dapat dijelaskan secara terbuka.
Namun Muhammadiyah jangan terlalu cepat berpuas diri.
Ramainya “Login Muhammadiyah” belum tentu berarti kaderisasi otomatis berhasil. Menyukai Muhammadiyah berbeda dengan memahami Muhammadiyah. Memiliki KTAM berbeda dengan memiliki komitmen gerakan. Simpati belum tentu berubah menjadi kesediaan berkhidmat.
Justru ujian sesungguhnya dimulai setelah orang login.
Apa yang ditemukan generasi muda ketika benar-benar masuk ke dalam Muhammadiyah?
Mereka mungkin melihat Muhammadiyah di media sosial sebagai organisasi yang rasional, terbuka, modern, dan berkemajuan. Tetapi apakah pengalaman yang sama ditemukan ketika mereka datang ke ranting, cabang, masjid, dan forum Muhammadiyah?
Apakah anak muda mempunyai ruang untuk bertanya? Apakah gagasan baru diberi tempat? Apakah mereka memperoleh kesempatan memimpin, berkarya, dan bereksperimen? Apakah Muhammadiyah cukup terbuka terhadap isu yang dekat dengan kehidupan mereka: kecerdasan buatan, lingkungan, budaya digital, kewirausahaan, dan perubahan dunia kerja?
Jangan sampai Muhammadiyah terlihat sangat progresif di layar, tetapi terasa berbeda ketika anak muda memasuki kehidupan organisasinya.
Biarkan mereka merasa menemukan Muhammadiyah, bukan merasa sedang direkrut Muhammadiyah.
Yang perlu disiapkan adalah ekosistem setelah mereka masuk: ruang belajar yang terbuka, kaderisasi yang dialogis, serta ruang pengabdian yang memberi kesempatan generasi muda menghadirkan gagasan baru.
Muhammadiyah harus mampu mengubah simpati menjadi partisipasi, partisipasi menjadi pemahaman, pemahaman menjadi komitmen, dan komitmen menjadi gerakan.
Fenomena “Login Muhammadiyah” patut disyukuri. Tetapi kita tidak boleh melupakan satu hal sederhana.
Dalam dunia digital, setelah login selalu tersedia pilihan logout.
Karena itu, tugas Muhammadiyah bukan sekadar membuat semakin banyak orang masuk, tetapi memastikan mereka menemukan ruang untuk belajar, bertumbuh, berkarya, dan memberi manfaat.
Login hanyalah pintu masuk. Masa depan Muhammadiyah ditentukan oleh apa yang mereka temukan setelah pintu itu terbuka.