
Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir menegaskan pentingnya membangun spirit baru Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah dalam menghadapi perubahan zaman yang semakin kompleks.
Hal tersebut disampaikannya dalam Resepsi Milad Aisyiyah ke-109 di Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta pada Selasa (19/5/26).
Dalam amanatnya, Haedar menyampaikan bahwa Muhammadiyah tengah menyiapkan berbagai langkah strategis untuk memperkuat kualitas pendidikan berkemajuan, mulai dari sekolah unggulan hingga sekolah bertaraf internasional.
“Spirit PP Muhammadiyah adalah mendorong seluruh sekolah Muhammadiyah di tingkat dasar dan menengah untuk terus maju. Kami sedang menyiapkan sekolah-sekolah unggul dan juga rintisan Muhammadiyah Global Boarding School,” ujarnya.
Ia juga menyinggung pengembangan Muhammadiyah Sapen Universal yang menurutnya melalui proses panjang dan tidak mudah, yang nantinya disejajarkan dengan TK ‘Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA) Semesta.
Selain pendidikan, Haedar turut mengapresiasi kiprah ‘Aisyiyah yang dinilainya terus bergerak di bidang dakwah, sosial, pendidikan, dan kemanusiaan. Menurutnya, Muhammadiyah-‘Aisyiyah tetap konsisten membawa misi Islam wasathiyah atau moderat dalam merespons persoalan global.
“Pendekatan wasathiyah selalu menghadirkan nilai kemanusiaan tanpa perubahan yang ekstrem. Pengalaman sejarah menunjukkan bahwa ekstremitas hanya akan melahirkan ekstremitas baru,” katanya.
Ia juga menyoroti situasi global yang penuh konflik dan ketidakpastian, mulai dari perang hingga krisis kemanusiaan. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tantangan besar bagi gerakan Islam untuk tetap menghadirkan nilai perdamaian dan kemanusiaan.
Dalam kesempatan itu, Haedar mengingatkan bahwa Muhammadiyah-‘Aisyiyah kini menghadapi realitas baru akibat perubahan ekosistem sosial dan revolusi teknologi informasi. Karena itu, organisasi harus terus beradaptasi agar tidak tertinggal.
“Spesies yang tidak bisa beradaptasi dengan lingkungan akan punah. Organisasi yang mampu berjuang secara unggul akan terus hidup, sedangkan yang tidak siap akan tertinggal,” ujarnya.
Menurutnya, tantangan gerakan besar justru lahir dari rasa puas diri dan status quo. Karena itu, Muhammadiyah-‘Aisyiyah harus terus membangun daya saing dan semangat pembaruan.
“Kalau ingin membangun peradaban, bangun dulu kebudayaannya. Amal usaha kita harus membawa masyarakat ke tingkat yang lebih tinggi, itulah yang disebut berkemajuan,” ungkap Haedar.
Di akhir pidatonya, ia menyebut pendidikan sebagai salah satu kunci utama membangun peradaban. Dari lebih dari 20 ribu TK ABA yang dimiliki ‘Aisyiyah, menurutnya harus mulai lahir lembaga-lembaga pendidikan bertaraf internasional yang mampu menjadi contoh kemajuan pendidikan Muhammadiyah-‘Aisyiyah di masa depan.
Setidaknya ada 7 kunci yang ia sampaikan demi membangun kemajuan, yaitu membangun bahasa, kesenian yang membawa kemajuan, sistem dan organisasi kemasyarakatan, sistem pengetahuan pendidikan, sietem peralatan dan teknologi, sistem mata pencaharian dan ekonomi, serta sistem religi atau pandangan keagamaan.