Dalam sejarah gerakan literasi Muhammadiyah, nama Dauzan Farouk menjadi sosok yang layak dikenang. Melalui gagasan Mabulir (Majalah Buku Keliling Bergilir), ia menghadirkan perpustakaan yang gratis, terbuka, dan dekat dengan masyarakat. Dengan bersepeda, Dauzan Faruk mengantarkan buku ke kampung-kampung, sekolah, pos ronda, hingga lembaga pemasyarakatan. Gagasan ini melampaui zamannya, karena menjadikan literasi sebagai gerakan kerakyatan yang dapat diakses siapa saja tanpa sekat birokrasi.
Spirit yang diwariskan Dauzan Farouk terus hidup hingga kini melalui berbagai komunitas literasi, salah satunya Serikat Taman Pustaka dan Rumah Baca Komunitas yang dipelopori oleh David Efendi bersama para aktivis muda Muhammadiyah. Gerakan ini menunjukkan bahwa literasi bukan sekadar membaca buku, tetapi juga bentuk kepedulian dan upaya menolong masyarakat melalui pengetahuan. Apa yang dirintis Dauzan Faruk menjadi bukti bahwa buku dan pengetahuan dapat menjadi jalan perubahan sosial dan amal kemanusiaan yang terus menginspirasi hingga hari ini.