Perjalanan Muhammadiyah tidak hanya ditandai dengan gerakan pendidikan dan dakwah, tetapi juga kepedulian yang besar terhadap persoalan sosial di tengah masyarakat. Pada awal abad ke-20, Yogyakarta mengalami perkembangan kota yang pesat yang diikuti dengan meningkatnya jumlah masyarakat miskin dan tunawisma. Kondisi tersebut mendorong lahirnya berbagai gagasan pelayanan sosial, salah satunya melalui pendirian Rumah Miskin Muhammadiyah, sebuah tempat penampungan bagi masyarakat yang membutuhkan perlindungan dan bantuan untuk memperbaiki kehidupannya.
Kehadiran Rumah Miskin Muhammadiyah menjadi bukti bahwa semangat Al-Ma’un tidak hanya diwujudkan dalam bentuk santunan sesaat, tetapi juga melalui upaya yang lebih terorganisasi dan berkelanjutan. Melalui pelayanan sosial, penyediaan tempat tinggal sementara, serta kepedulian terhadap kaum lemah, Muhammadiyah menunjukkan komitmennya untuk menghadirkan Islam yang membawa rahmat bagi seluruh masyarakat. Kisah ini menjadi pengingat bahwa gerakan kemanusiaan dan kepedulian sosial telah menjadi bagian penting dari perjalanan Muhammadiyah sejak masa awal berdirinya.