Muhammadiyah di Tulungagung memiliki perjalanan sejarah yang unik dan penuh tantangan. Berbeda dengan daerah lain yang memiliki kultur santri yang kuat, Tulungagung tumbuh dalam lingkungan yang didominasi oleh kelompok abangan dan komunis. Meski demikian, Muhammadiyah mampu berkembang sejak akhir tahun 1930-an melalui pengajian, kegiatan sosial, dan pendirian amal usaha seperti sekolah. Kehadiran Muhammadiyah di tengah masyarakat tidak hanya menjadi gerakan dakwah, tetapi juga membawa semangat pencerahan dan pendidikan yang diterima oleh berbagai kalangan.
Dalam menghadapi berbagai gesekan sosial dan ideologis, Muhammadiyah di Tulungagung memilih pendekatan yang menyejukkan dan merangkul masyarakat. Melalui kegiatan sosial, pendidikan, serta pengelolaan masjid dan amal usaha, Muhammadiyah berhasil membangun simpati masyarakat, bahkan di wilayah yang sebelumnya menolak keberadaannya. Kisah ini menjadi bukti bahwa dakwah yang dilakukan dengan keteladanan, kepedulian, dan semangat menyinari untuk semua mampu menghadirkan perubahan serta memperkuat persatuan di tengah keberagaman masyarakat.